Pelatihan Kepemimpinan Reformasi Birokrasi (Reform Leader Academy) Angkatan XIII Dibuka

Bertempat di Kampus PPLPN LAN Jakarta, hari ini (31/7/2018) dibuka Pelatihan Kepemimpinan Reformasi Birokrasi atau yang lebih dikenal dengan Reform Leader Academy oleh Kepala Lembaga Administrasi Negara, Dr. Adi Suryanto, M.Si. Pelatihan ini merupakan angkatan ketiga belas. 

Dalam sambutannya, Adi Suryanto menyampaikan bahwa peserta diklat ini merupakan orang-orang terbaik yang berasal dari berbagai instansi pemerintah, baik Instansi Pusat maupun Pemerintah Daerah. Reformasi Birokrasi memerlukan kader terbaik dalam instansi pemerintah dan diharapkan akan menjadi motor penggerak perubahan di setiap instansi pemerintah tersebut.

"Saya ucapkan selamat peserta Reform Leader Academy Angkatan 13, saya tahu peserta diklat merupakan orang terbaik dari instansinya, termasuk widyaiswarannya, hal ini dilakukan karena ingin melakukan proses pelatihan yang berkualitas. Reform Leader Academy atau RLA merupakan rekomendasi Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional yang terdiri dari kawan-kawan swasta seperti NGO dan lain-lain. Diperlukan kader-kader terbaik dalam instansi dan diharapkan akan menjadi motor penggerak perubahan di setiap instansi pemerintah, untuk itu kita harus memiliki atau mempersiapkan kader terbaik tadi dan suatu saat akan menjadi pemimpin instansi masing-masing" ujar Adi Suryanto.

Lebih lanjut Kepala Lembaga Administrasi Negara tersebut mengatakan bahwa dimulai tahun kemarin (2017-red) bahwa setiap alumni RLA diberi kesempatan untuk penyetaraan kompetensi Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat II. Sehingga alumni RLA mendapat dua sertifikat, yaitu sertifikat RLA dan sertifikat Diklatpim Tingkat II.

"Hal penting dalam proses pembelajaran RLA adalah adanya tematik, saat ini temanya adalah "easy of doing business". Ini merupakan salah satu dari beberapa tema-tema yang disusun oleh tim ahli, seperti mitigasi bencana, revitalisasi sungai, dan sebagainya. Sehingga peserta dipilih berdasarkan tema, diharapkan berdasarkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan bisa berkolaborasi bersinergi duduk bersama sebagai sumber belajar bagi peserta lainnya" kata Adi lebih lanjut. 

Salah satu tujuan dari diklat RLA Angkatan 13 adalah melakukan inovasi terkait dengan easy of doing business Indonesia dimana saat ini peringkat Indonesia pada peringkat 72. Selanjutnya Adi Suryanto menguraikan bahwa diharapkan dari kelas ini akan muncul pemikiran regulasi yang bisa meningkatkan easy of doing business Indonesia, walaupun kelas-kelas lain dengan tema yang sama tetapi kelas ini bisa fokus yang berbeda sehingga saling melengkapi dengan kelas-kelas lain.

Saat pertama kali tema easy of doing business diterapkan, masih berkutat dalam kebijakan dan regulasi, bagaimana menata regulasi sehingga dapat bersaing. Indikator yang paling parah adalah starting business, yaitu awal mula melakukan bisnis. Walaupun sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan tetapi belum banyak berubah, terbukti banyaknya perusahaan yang hengkang dari Indonesia.

Dalam tahapan pembelajaran RLA terdapat benchmarking, adalah proses studi banding dan mengukur suatu kegiatan perusahaan/organisasi terhadap proses operasi yang terbaik dikelasnya sebagai inspirasi dalam meningkatkan kinerja (performance) perusahaan/organisasi. Kenapa Vietnam?

"Vietnam, adalah negara yang baru terbuka dan banyak kebijakannya mempermudah berusaha. Mereka sangat disiplin dalam menerapkan kebijakan dengan memberikan fasilitas-fasilitas, sehingga RLA Angkatan 13 ini direncanakan benchmarking ke Hanoi, Vietnam. Vietnam sangat menarik karena dengan Indonesia seperti kejar-kejaran, kadang kita lebih unggul kadang Vietnam yang lebih unggul. Dengan peringkat easy of doing business yang lebih baik, kita belajar dan semoga dapat mengejar ketertinggalan kita melebihi Vietnam" jelas Adi.

Sebelumnya, Dr. Basseng, M.Ed, Kepala Pusdiklat Teknis dan Fungsional selaku Ketua Panitia Penyelenggaran Diklat RLA dalam laporan menyebutkan bahwa RLA Angkatan 13 mengambil tema easy of doing business. Tujuan dan kompetensi yang diharapkan dalam diklat ini yaitu: Tujuan, adalah membentuk sosok aparatur yang memiliki pengetahuan dan kompetensi dasar untuk mendukung percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi dan mengembangkan insan ASN yang berkarakter kuat, berwawasan kebangsaan, memiliki perspektif global dan kompeten memimpin perubahan untuk mempercepat reformasi birokrasi.
"Kompetensi yang dibangun dalam diklat ini terdiri atas dua yaitu, pertama, menyiapkan proses perubahan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan program reformasi birokrasi dan sesuai dengan tema yang ditetapkan, kedua, mengelola proses perubahan inovatif sesuai kebutuhan program reformasi birokrasi di instansi masing-masing. Kompetensi tersebut  diimplementasikan sesuai dengan tema pelatihan yang telah ditetapkan" tambah Basseng.

Waktu penyelenggaraan diklat RLA Angkatan 13 akan berlangsung kurang lebih 4 bulan, 896 jam pelajaran dimulai tangga 31 Juli sampai dengan 28 November 2018. Peserta yang terpilih mengikuti pelatihan sebanyak 25 orang, terdiri atas instansi BKPM 2 orang, Kemenkumham 2 orang, Kemenkeu 2 orang, Pemerintah Provinsi Aceh 2 orang, Banten 2 orang, Jateng 5 orang, Jatim 3 orang, Sumbar 1 orang, Kaltim 2 orang, dan Gorontalo 4 orang.

2 komentar:

Pages